Hai , i'm again .. ini kisah Clarise yang selanjutnya .. Selamat membaca dan mohon beri komentar di bawah, Kalian lebih suka Kyle atau Axel ?? :D

Clarise menjentik-jentikkan jarinya tepat di depan mata Tere yang mulai memejamkan mata. “Hei, hei… bangun!”
Seketika Tere membuka matanya yang memerah lebar-lebar. Ia geleng-geleng kepala sejenak lalu mengucek-ngucek matanya. “Oh, Tuhan, kantuk ini sudah membunuhku. Untung saja Monsieur Doughlas tidak membunuhku juga! Sebenarnya aku sudah tertidur sejak pelajaran Sastra Inggris tadi.”
Clarise mencomot kentang goreng di hadapannya sambil membaca novel dan berujar enteng. “Memangnya kau pulang dari rumah Gabrielle jam berapa? Aku heran kenapa Gabrielle mengadakan pesta tidak pada saat weekend saja. Kalau begini kan susah. Aku dengar banyak dari mahasiswa teknik yang tidak masuk hari ini.”
“Yaah… begitulah. Aku akan protes begitu bertemu Gabrielle nanti.” Tere menguap lalu buru-buru menutup mulutnya. “Lalu bagaimana dengan ibumu? Apa tadi malam kau jadi di panggang?”
Clarise tertawa. “Tidak. Ibuku tidak akan setega itu. Lagipula tadi malam aku tidak bertemu ibuku. Sepertinya ia belum pulang dari butik. Aku baru bertemu ibu saat sarapan tadi.” mata Clarise berbinar. “Dan hebatnya lagi, ibuku tidak menanyakan apapun soal pesta tadi malam. Mungkin karena saking lelahnya sampai ibu lupa akan kebiasaannya mengintrogasiku.”
“Kau beruntung sekali.” Tere menyeruput kopi Clarise. “Lalu bagaimana dengan lelaki itu? eh, siapa namanya? Kyle?”
Seketika Clarise ingat. Mengingatnya sukses membuat aliran darah di sekujur tubuhnya mengalir deras. “Ahh, dia… aku bahkan belum tahu bagaimana wajahnya. Dia masih memakai topeng di akhir pertemuan kita. Aku jadi penasaran dengan wajahnya.” Clarise mengepalkan tangannya. “Tapi bagaimanapun juga aku harus menemukannya. Harus! Kau bisa bantu aku, kan, Tere?” Clarise beralih menatap Tere lalu seketika ia mendengus keras. “Tidur lagi!”
***
Clarise pergi menuju kantin yang paling dekat dengan fakultasnya lalu berjalan menuju vending machine. Mata kuliah statistika sangat membuatnya kehausan siang ini. Clarise memasukkan beberapa koin ke dalam celah lalu memilih sebotol jus jeruk. Beberapa saat ia menunggu minumannya keluar sambil memeriksa ponsel. Tidak ada SMS dari siapapun. Bahkan dari Axel. Kemana perginya lelaki itu? Apa Clarise harus menghampirinya di fakultas kedokteran, tempat dimana ia belajar? Clarise mengangkat bahu. Sebaiknya tidak usah. Clarise malah merasa menjadi penganggu kalau terus-terusan mengganggu ketenangan hidup Axel. Tapi... hey, kenapa minuman dinginnya tidak keluar-keluar?
Clarise memeriksa lubangnya, dan tidak menemukan apapun disana. Ya ampun, ia sangat haus dan ia tidak bisa menolelir siapapun yang mengganggunya di saat haus seperti ini.
Clarise memukul-mukul vending machine itu lalu menekan segala tombol yang ada disitu. Ia memandang ke segala arah dan tidak menemukan siapapun di kantin itu yang dapat dimintai tolong. Ya Tuhan, cobaan apalagi ini.
Clarise masih memukul-mukul vending machine itu dan yang terakhir ia menendangnya hingga kakinya sendiri yang kesakitan.
“Aduh, kaki gue!!” teriaknya.
“Salah apa lemari es itu hingga kau menendang-nendangnya?”
Clarise terpaksa tidak mengacuhkan rasa sakit di kakinya lalu mendongak untuk melihat siapa yang berbicara barusan.
Dan seketika Clarise tertegun menatap lelaki tinggi yang berdiri menjulang di sebelahnya sedang tersenyum menatapnya dengan ekspresi geli. Dan saat pertama kali melihatnya, Clarise merasa ia tidak mengenal lelaki itu. Matanya biru, rambut hitam kecokelatan, hidungnya yang tinggi, kulit sebening porselen… astaga, makhluk darimana ini? Tapi bagaimanapun juga Clarise memasang wajahnya agar terlihat biasa saja lalu tersenyum aneh.
“Eh, hai…” malah itu yang keluar dari mulut Clarise. Seketika ia membodohi dirinya sendiri. Ia bertingkah kikuk sambil menunjuk ke arah alat bodoh itu. “Ini… tiba-tiba saja tidak berfungsi. Minumanku tidak bisa keluar.” Jelasnya.
Lelaki itu menaikkan alis, bergerak menekan salah satu tombol, lalu membungkuk sambil memasukkan tangannya ke arah lubang. Dan magically, minuman dingin Clarise sudah berada di tangan lelaki itu. Clarise langsung tersenyum lega. Ia menerima minuman dinginnya.
“Terimakasih banyak! Aku tidak tahu kalau tidak ada kau mungkin kulitku sudah pecah-pecah karena kekeringan. Sekali lagi terimakasih.”
Lelaki itu tertawa.“Jangan berkata begitu. Aku hanya kebetulan lewat sini dan melihatmu.”
“Ooh, kau fakultas teknik juga?” Clarise membuka tutup botol minumannya lalu meminumnya seteguk.
Lelaki di depannya cuma melongo heran. “Kau lupa?”
“Eerr…” Clarise ikut-ikutan bingung. “Aku tidak lupa. Aku memang tidak tahu.”
Dan seketika lelaki itu tersenyum lebar. “Oh, Tuhan. Saat kau berkata ‘hai’, kukira kau benar-benar mengingatku. Ternyata, kau sama sekali tidak tahu?”
Clarise menggigit bibir bawahnya sambil menggeleng. Benar, ia tidak pernah mengenal lelaki ini. Atau mungkin mereka pernah bertemu?
“Astaga, aku Kyle! Kau lupa?”
Dan disaat yang sama Clarise terbatuk-batuk. Ia tersedak liurnya sendiri. “Apa?” ujarnya disela batuk-batuk.
“Hey, apa yang membuatmu batuk? Kau terkejut?” Kyle mengusap-ngusap punggung Clarise.
Clarise mengamati wajahnya dengan seksama. Seharusnya ia mengingat rambut cokelat dan perawakan tubuhnya. Harusnya ia mengingat itu!
“Jadi ini kau?” tanyanya masih tidak percaya.
Kyle tersenyum sambil menggut-manggut. “Kenapa? Wajah yang tidak seperti yang kau harapkan?”
Ini lebih dari yang seperti ku bayangkan, gumam Clarise dalam hati.
“Kau tidak ada kuliah?” tanya Kyle ketika mendapati Clarise hanya diam membisu dan tersenyum.
“Ah, tidak. Aku sudah selesai. Hanya saja ada seorang dosen yang ingin bertemu denganku pukul satu nanti. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga baru akan pulang. Tapi…” Kyle melirik jam tangannya. “Kau masih harus menunggu sekitar satu setengah jam lagi.”
Clarise membenarkan. “Ya begitulah. Semua temanku sudah pulang. Tere juga. Dia sudah terserang virus kantuk dan memutuskan untuk pulang. Biasanya dia yang selalu menemaniku.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang menemanimu?”
“Ah tidak usah, aku tidak suka merepotkanmu.” Clarise buru-buru menolak.
“Kalau kau tak mau kutemani, maukah kau menemaniku makan siang?” Kyle tersenyum jahil.
Clarise lagi-lagi tertawa. “Bukankah itu sama saja?” Clarise tampak menimbang lalu berkata. “Baiklah aku mau. Kau mau makan apa?”
“Hmm, apa saja. Kau sedang ingin makan apa?”
“Aku ingin makan bouef bourguinon.”
Mata Kyle melebar. “Oh ya? Kita punya selera yang sama. Aku juga penggemar beef. Kalau begitu ayo.”
***
Kyle adalah sosok pribadi yang ramah, humoris dan menyenangkan. Berbicara dengannya selama satu setengah jam akan terasa seperti semenit. Clarise sangat menyukai lelaki seperti ini. Ia tak akan merasa bosan walau hanya duduk di kafetaria ini selama satu jam setengah dengan piring-piring yang sudah kosong. Makanan mereka sudah habis satu jam yang lalu dan Clarise tak ingin cepat-cepat beranjak dari situ. Berbicara dengan Kyle seperti berbicara dengan ibunya sendiri. Tak akan habis cerita yang mengalir. Kyle yang tampaknya pendiam itu ternyata sangat pandai bercerita. Malah terkadang mereka terlibat adu pendapat. Tapi semuanya mengantar mereka kembali untuk tertawa.
“Oke, Clarise, ini sudah jam satu. Kau harus menemui dosenmu sekarang kalau tidak ingin terlambat.” Kyle menyarankan.
Clarise sedikit kecewa karena sebenarnya ia ingin berlama-lama lagi dengan Kyle. Ada banyak yang belum ia ketahui soal Kyle. Tapi masih ada waktu lain untuk mengobrol kembali.
“Baiklah. Aku harus segera menemui orang itu. Kau tidak ada acara lagi?”
“Tidak. Hanya membereskan apartemenku yang masih berantakan.” Kyle tersenyum manis.
Kyle mengantarkannya sampai di depan ruangan para dosen. Clarise melambai penuh semangat kearah Kyle sebelum ia masuk ke ruangan itu. Kyle tersenyum lalu membalas lambaiannya. “Sampai jumpa, Clarise.”
***
Clarise tidak tahu kalau Axel tengah berada di butik ibunya sore hari itu. Usai bertemu dengan dosen, Clarise langsung menuju ke butik karena ia cukup penat berada di rumah yang pasti akan sesepi kuburan. Ibunya selalu menghabiskan waktunya di butik dan pulang hingga larut malam. Sementara adik perempuannya, Claudy, masih belum kembali dari Indonesia. Ia masih asyik menghabiskan liburannya di rumah nenek, di Jogjakarta.
“Astaga, kau disini?” kata Clarise bingung harus terkejut atau senang. “Kenapa tidak meneleponku dulu? Sudah lama menungguku?”
“Ponselmu saja mati. Bagaimana aku bisa meneleponmu. Aku sudah menunggu selama tiga puluh menit disini.” Kata Axel cuek. Clarise bisa menangkap bahwa Axel sedang marah padanya. Ia saja barusan menyadari kalau ia sudah mematikan ponsel sejak tadi.
“Maaf. Aku lupa tidak menyalakan ponsel.” Clarise menyesal. “Lalu mengapa tumben sekali kau datang kesini? Masih ingat aku?”
“Ya Tuhan, apa salah kalau aku merindukanmu dan ingin bertemu denganmu? Aku ingin mengajakmu ke Champ Elysee. Ada sesuatu yang ingin kubeli disana?”
“Apalagi? Pasti parfum?” Clarise heran kenapa lelaki ini gemar sekali mengoleksi berbagai parfum di rumahnya. Sampai-sampai ia membeli sebuah lemari besar untuk menyimpan koleksi parfumnya.
“Ya… apalagi? Bagaimana? Kau setuju, bukan?”
“Oke. Tapi tunggu sebentar. Aku mandi dulu.” Setelah mendapat persetujuan Axel, Clarise melepas sepatunya lalu masuk menuju kamar mandi.
***

Clarise dan Axel baru saja keluar dari gerai parfum terkenal di Champ Elysee lalu berjalan menuju trotoar secara beriringan. Keadaan Champ Elysee malam ini seperti biasa. Penuh sesak oleh para turis dan penduduk lokal yang ingin menghamburkan uangnya. Clarise benar-benar malas berjalan-jalan di seputaran Champ Elysee. Karena ia tidak bisa berhenti melotot melihat harga-harga di pertokoan ini yang tidak ada yang murah! Ia lebih suka berjalan-jalan di Rue Sufflot yang terletak di dekat kampusnya karena harga produknya yang lebih miring dan pas di kantongnya.
Sebenarnya Axel tadi memaksa untuk membelikannya parfum dan berulang kali Clarise harus menolak karena ia sendiri sudah memiliki parfum. Lagipula ia tidak akan pernah tega menyuruh Axel membelikannya barang pribadi karena Axel sendiri seorang mahasiswa yang berpenghasilan tak tentu. Kadang menjadi seorang pelayan restoran, penjaga toko, petugas perpustakaan kampus dan bahkan Clarise pernah melihatnya bekerja sebagai bartender. Clarise sangat tahu bahwa Axel ingin mewujudkan cita-citanya sebagai mahasiswa yang mandiri. Karena tentu saja tidak selamanya ia bisa bergantung pada uang kiriman orangtua angkatnya.
“Aku ingin makan Baquette…” kata Axel sambil melihat ke gerai roti.
“Kau tidak usah jajan diluar. Kau boleh makan sepuasnya di rumahku.”
“Aku tidak enak kalau terus-terusan merepoti ibumu, Clare…” jelas Axel.
Clarise mengibaskan tangannya. “Ibuku tidak masalah. Lagipula kau sudah mengenal keluarga hampir lima tahun. Ibuku juga menyayangimu selayaknya anak sendiri.”
Axel hanya tersenyum simpul. Tapi tiba-tiba Axel menarik lengan Clarise mendekat. Clarise begitu terkejut ketika Axel menyentuhnya. Dan bersamaan dengan itu seorang lelaki yang memakai baju lengan panjang warna khaki tiba-tiba datang mendekat. Clarise langsung tahu karena ini adalah spontanitas Axel saat seorang lelaki tak dikenal menghampiri mereka. Ia selalu cepat-cepat menarik lengan Clarise mendekat ke arahnya.
“Hai… Mademoiselle Clarise…”
Clarise butuh waktu tiga detik untuk menyadari bahwa lelaki yang menghampirinya tadi adalah Kyle. Matanya langsung melebar. “Astaga, Kyle! So surprise meet you here.”
“Awalnya aku agak ragu. Karena itu aku menghampirimu dan memastikan itu kau.”
“Oh… kau sendirian?” entah mengapa Clarise sangat senang bertemu dengan Kyle disini.
“Tidak. Bersama teman-teman yang lainnya. Mereka ada disana.” Kyle menunjuk ke salah satu arah, Clarise mengikuti arah yang ia tunjuk. Sekitar lima orang lelaki yang berdiri disana.
“Oh…” Clarise mengangguk-angguk lalu memperkenalkan Kyle pada Axel. “Ini sahabatku. Dia belajar di fakultas kedokteran.”
Kyle menjabat tangan Axel. Kyle tersenyum ramah, sementara Axel hanya mengangguk acuh tak acuh.
“Ah, baiklah. Aku harus kembali pada teman-temanku sebelum mereka mengamuk. So see you tomorrow…” Kyle berpamitan.
“Oke, see you…” Clarise melambai dan melihat kepergian Kyle sampai ia menjauh.
“Siapa dia? Pacarmu?”
Clarise buru-buru menoleh menatap Axel. “Bukan! Dia seniorku. Kami bertemu di pesta haloween.”
“Sepertinya kau tertarik dengannya. Benar?”
“Ya, sedikit.” Clarise mempertemukan jari telunjuknya dengan jempol.
“Lalu kenapa tidak berpacaran dengannya saja? kelihatannya dia juga menyukaimu.”
Clarise heran melihat Axel yang mendesaknya seperti itu. “Kau ini. Kami baru saja bertemu. Kenapa menyuruhku berpacaran dengannya? Lagipula dia orang Amerika.”
“Lalu kenapa kalau dia orang Amerika? Kau sedang malas berhubungan dengan orang yang berbeda budaya?”
“Ya. Aku sudah berkali-kali bertemu dengan orang Amerika dan aku selalu tidak cocok dengan mereka. Tapi kali ini…” Clarise menerawang ke depan. “Semoga saja Kyle bisa merubah persepsiku pada orang Amerika.”




