Kita pisah balik lagi, pisah lagi.. apakah kau mengerti bahwa ini bukanlah.. Bukan permainan.
Sering mendengar lagu ini saat saya menginjak SMP dulu.. Bagi saya lagu ini lucu. dan sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya. Bagaimana rasanya pisah balik, pisah balik. Seperti lagu BBB, putus nyambung. Hahaha.. listrik saja nggak selamanya putus nyambung, apalagi hubungan?? Rasanya terlalu kekanak-kanakan dan pantas dilakukan oleh manusia labil jaman SMP atau mungkin adik-adik kita yang masih Sd.
Tapi... sadly i have said bahwa kisah dalam lagu-lagu tsb sejujurnya ada dalam kehidupan nyata saya. entahlah siapa yang kekanak-kanakan. Mungkin aku.. Mungkin benar yang kekanak-kanakan itu aku dan unfortunately aku mendapat sosok yang tak jauh berbeda dengan sikapku. Tak ada kata dewasa di kamusnya. Mungkin hubungan ini salah. dan jelas salah. Saya mendapat dirinya yang sangat-sangat saya sayangi namun lagi-lagi dalam bad condition, yang harusnya tipe saya itu laki-laki dewasa yang selalu mengalah saat saya berada dalam kondisi membutuhkan pengertian dari seorang laki-laki mengenai pendapat atau segala macam yang membuat wanita lebih sensitif dari biasanya. Ya, saya membutuhkan laki-laki seperti itu. Pintar menjaga hati, menghargai pendapat, dan pintar memberi solusi atas segala hal yang harusnya mudah.
dan mendapat berbagai hal indah meskipun kecil, meskipun lewat alat komunikasi itu saja sudah lebih dari cukup. Tapi lagi-lagi hal itu yang membuat saya frustasi. Bertengkar mendebatkan sesuatu yang harusnya tak pantas didebatkan, dan menghadapi segala perbedaan tanpa ujung ini. *sigh
Saya jadi sangat mengerti bahwa perbedaan tak berujung ini membawa satu pemikiran yang stuck di otak saya. Kami sudah tak cocok dan tidak akan cocok. Segalanya. Semuanya. Tak ada yang mau menghargai, beradaptasi dan melupakan segala perbedaan. Anggaplah kita sama, anggaplah segala yang kita lakukan ini benar. Tapi itu tak pernah terjadi dalam hubungan ini. Segalanya terasa salah hingga saya merasakan ada tembok tak kasat mata yang memisahkan, serta memberi jarak dalam hubungan ini. Saya melihat dirinya sudah jauh dari jangkauan saya. Jauh dari rengkuhan saya. Karena kita nampak sama padahal di dalamnya kita sama sekali berbeda. dan perbedaan tanpa ujung ini kembali memisahkan.
Kamis, 21 Maret 2013
Sebuah Mula-Mula
Tuhan bisa jadi menciptakan sepasang manusia yang saling menyayangi tapi tidak menciptakan mereka saling melengkapi dan hidup bersama. Mungkin itu kata-kata yang pas buat ku. Buat siapapun yang merasa seperti itu..
tidak ada yang salah dengan mencintai. Sepasang manusia bertemu, saling menyapa, mengagumi dan bisa jadi mereka saling mencintai. Tapi keterkaitan antara mereka berdua tidak terhubung dengan takdir. Bisa jadi mereka menikah dan hidup bersama. Bisa jadi mereka berpisah dan memiliki hidup sendiri-sendiri. Bisa jadi mereka menikah, bahagia tapi kemudian dipisahkan.
Tidak ada yang mengerti jalannya hidup. Semua berjalan mengikuti aliran air, banyak kejutan, banyak rintangan. Sedih, bahagia, canda tawa, tangisan. dan seolah menyadarkan kita kembali, aliran air sudah membawa kita pergi terlampau jauh. Seolah baru kemarin kita belajar merangkak jatuh dari sepeda. Seolah baru kemarin kita menanggalkan seragam merah putih kita. dan seolah baru kemarin guru SMA kita menyematkan tanda kelulusan. Aliran air dan pembawaan hidup kita yang enjoy, yang terlalu santai, membuat segalanya berjalan cepat. Terlampau cepat malah. dan menyadari banyak hal yang sudah kita sia-siakan di belakang sana.
Tak ada yang bisa disesali. Hanya membalik lembaran kosong buku riwayat hidup kita, mewarnainya dengan pensil indah, menuliskan cerita indah di sana, serta menggoreskan setiap lembaran polos barunya dengan ukiran kisah hidup, dan kisah cinta yang baru. :)
Sabtu, 23 Februari 2013
Pisah
Ada yang bisa bercerita bagaimana rasanya mencintai orang yang tak boleh dicintai? Karena beda, beda yang tak berujung? Saya pernah... tak ada yang menghalau rasa. Tidak ada yang bisa. Bahkan saya sendiri. Saya yakin dia orang yang paling mengerti... Mengerti saya sepenuh hati. Luar dalam saya. dia yang paling memahami.
Bayangkan? Saya akan kehilangan orang yang seperti itu dalam hidup saya. Saya akan kehilangannya. Saya tak akan pernah memilikinya. Tuhan melarang. Orangtua jelas. Negara? Tak ada yang mau merestui kita kecuali cinta kita sendiri. Kecuali harapan bahwa suatu saat kita bisa bersama. Meskipun bagaimana jalannya nanti.
Saya tidak tahu. Saya hanya merasa, kehilangannya adalah satu hal terburuk, terberat dalam hidup saya. Karena bernapas tak akan menjadi seringan biasanya. Karena tawa tak akan selepas dulu.. Karena hidup tak akan menjadi seindah waktu itu.
Saya lupa kapan terakhir saya bahagia. Kapan terakhir saya merasakan indahnya mengasihi, dikasihi secara tulus dan nyata. Mungkin itu terjadi tiga bulan lalu. Saat saya benar-benar mengerti, bagaimana indahnya ada di dekatmu. Berada dalam tempat yang sama, bergerak bersama, bernapas bersama. Saya ingin mengulangnya nanti. Saya sudah berjanji saya akan menggulung jarak dan menjadikan kita dekat kembali. Walau hanya dalam beberapa hari. dalam hari itu saya mencoba mengumpulkan napas, mengisi energi banyak-banyak, sebanyak mungkin agar saya bisa kembali siap berjauhan. Saya ingin mewujudkan itu.. Lagi.
Tapi berat. Berat melanjutkan ini semua ketika kita dihadapkan dalam suatu badai besar di depan. Kita tak lagi satu, tak lagi seirama, tak lagi sama. dari dulu... tapi hati. Saya, dia, kita... hanya mengandalkan hati.. Tidak ada lagi pemersatu. Bisa kita hidup sendiri-sendiri? Merobohkan seketika impian dan harapan yang kita bangun susah payah.
Bayangkan? Saya akan kehilangan orang yang seperti itu dalam hidup saya. Saya akan kehilangannya. Saya tak akan pernah memilikinya. Tuhan melarang. Orangtua jelas. Negara? Tak ada yang mau merestui kita kecuali cinta kita sendiri. Kecuali harapan bahwa suatu saat kita bisa bersama. Meskipun bagaimana jalannya nanti.
Saya tidak tahu. Saya hanya merasa, kehilangannya adalah satu hal terburuk, terberat dalam hidup saya. Karena bernapas tak akan menjadi seringan biasanya. Karena tawa tak akan selepas dulu.. Karena hidup tak akan menjadi seindah waktu itu.
Saya lupa kapan terakhir saya bahagia. Kapan terakhir saya merasakan indahnya mengasihi, dikasihi secara tulus dan nyata. Mungkin itu terjadi tiga bulan lalu. Saat saya benar-benar mengerti, bagaimana indahnya ada di dekatmu. Berada dalam tempat yang sama, bergerak bersama, bernapas bersama. Saya ingin mengulangnya nanti. Saya sudah berjanji saya akan menggulung jarak dan menjadikan kita dekat kembali. Walau hanya dalam beberapa hari. dalam hari itu saya mencoba mengumpulkan napas, mengisi energi banyak-banyak, sebanyak mungkin agar saya bisa kembali siap berjauhan. Saya ingin mewujudkan itu.. Lagi.
Tapi berat. Berat melanjutkan ini semua ketika kita dihadapkan dalam suatu badai besar di depan. Kita tak lagi satu, tak lagi seirama, tak lagi sama. dari dulu... tapi hati. Saya, dia, kita... hanya mengandalkan hati.. Tidak ada lagi pemersatu. Bisa kita hidup sendiri-sendiri? Merobohkan seketika impian dan harapan yang kita bangun susah payah.
Jumat, 22 Februari 2013
Goodbye lagi
Kata-katanya tajam bak sembilu. Perih menyayat hati. Sudah berkali-kali tapi hebatnya aku masih disini, tegak berdiri. Dan bahkan hati ini sejujurnya masih berfungsi. Masih bisa merasa, masih bisa mencinta. Tak ada alasan lain yang mendorong saya tetap disini. Selain kecintaan dan rasa. Mencoba berdamai dengan sakit. Melawannya dengan kebaikan.
Penawarnya tak ada selain tulusmu, kalimat bijakmu yang bahkan tak pernah ada. Sejujurnya penawar itu tak ada. Kalau penawar itu tak ada, buat apa saya tetap ada disini selain membuang waktu dan menyakitkan diri?
Saya wanita normal yang butuh sanjung puji, kalimat baik, dan segala hal ketulusan lain yang membuat saya semakin dihargai. Bukan yang seperti ini..
Doaku sederhana. Yang saya mau hanya yang terbaik. Terbaik meskipun tak pernah membuat bahagia tak masalah. Ini yang membuat saya semakin kuat. Pergi saja dan tak kembali, dari pada terus disini tanpa bisa bersatu. Menghadapi beda yang seolah tak berujung.
Terimakasih yang sudah menemani.
Kamis, 21 Februari 2013
Corat-Coret: Lagi lagi day dreaming
Corat-Coret: Lagi lagi day dreaming: Kalau bukan karena apa yang kuyakini sejak lama bahwa mimpi itu tak akan menjadi sia-sia selama kemauan dan doa itu tetap bergema. Dan seti...
Langganan:
Postingan (Atom)